السلام عليكم و رحمة الله


Berikut sedikit hukum dan panduan ringkas tentang adab memberi dan menjawab salam menurut hadis Rasulullah SAW.
Diharamkan seorang Muslim mendahului mengucapkan salam kepada orang Non Muslim. Rasulullah SAW bersabda:”Jangan kalian mendahului mengucapkan salam kepada orang Yahudi atau Nashrani” (HR. Muslim).

Tetapi apabila sesuatu majlis itu telah berbaur antara orang Muslim dengan Non Muslim, maka diperkenankan kita untuk memulai mengucapkan salam. Demikianlah yang dilakukan Rasulullah SAW ketika terlibat dalam suatu majlis yang bercampur baur antara orang Muslim, musrikin penyembah berhala dan Yahudi. Beliau mengucapkan salam kepada mereka” (HR. Bukhari dan Muslim).

Apabila orang Non Muslim memulai mengucapkan salam, maka jawaban yang diperkenankan oleh syari’at adalah:”Wa ‘alaikum!” (Semoga anda juga). Itu saja, tidak usah diperpanjang lagi. Rasulullah SAW menasihatkan:”Jika orang-orang Ahli Kitab (Non Muslim) memberi salam kepada kamu, maka jawablah:”Wa ‘alaikum” (HR. Bukhari dan Muslim).

MAKNA SALAM

Makna salam adalah doa seorang Muslim kepada saudaranya seiman. Kata “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh” mempunyai makna “Semoga seluruh keselamatan, rahmat dan berkah dianugerahkan Allah kepada kalian”. Nilai doa dalam kandungan salam ini menjadi salah satu dasar mengapa salam tidak dapat diberikan kepada orang-orang Non Muslim..
Doa seorang Muslim kepada Non Muslim akan tertolak, meskipun ditujukan kepada orang-orang yang dekat dalam kehidupannya. Demikian pula Rasulullah SAW tertolak doanya ketika ditujukan kepada bapa saudaranya yang tidak memeluk ajaran Islam hingga ke akhir hayat iaitu Abu Thalib. Dan Allah mengingatkan dengan firmanNya:
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki- Nya. Dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”

(Al Qashash : Ayat 56)

Doa seorang Muslim kepada Non Muslim adalah doa supaya mereka mendapat petunjuk masuk dalam pangkuan Islam. Demikianlah doa Rasulullah SAW kepada orang Non Muslim:”Ya Allah berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka orang yang tidak mengerti” (Sirah Nabawiyah, Abul Hasan ali An Nadwi).
Atau doa Rasululah SAW kepada Umar Bin Khaththab ketika masih kafir:”Ya Allah, berilah kemuliaan kepada Islam dengan masuk Islamnya salah satu orang terkasih kepadaMu, yakni Abu Jahal atau Umar Bin Khaththab”.
Demikian pula sebaliknya. Seorang Non Muslim tidak mungkin mendoakan seorang Muslim, kerana tuhannya tidak sama. Bagaimana mungkin seorang tuan menggaji seseorang yang bukan pegawainya. Sehingga, bila seorang Non Muslim memberi salam kepada kita, cukup kita balas dengan ucapan:”Wa’alaikum (Semoga kamu juga)”, tidak lebih dari itu.
Bagi sesama Islam........ hukum memberi salam adalah sunat dan menjawabnya pula adalah wajib.والله اعلم

Renungan Ramadhan.. : Bahaya Bakhil....

Petikan dari kata-kata Saiyidina Abu Bakar r.a yang bermaksud, Orang-orang yang terlalu bakhil mereka tidak akan terlepas salah satu dari tujuh kemungkinan ini iaitu:

1. Allah memberikan kuasa kepada seorang pemerintah yang zalim, lalu pemerintah itu akan merampas dan membinasakan hartanya setelah menjatuhkan maruah dirinya.

2. Allah akan menimpakan keatasnya bencana dunia seperti berlaku kebakaran, kecurian, banjir, tenggelam dalam tanah dan sebagainya.
3. Setelah ia meninggal kelak, hartanya akan diwarisi oleh mereka-mereka yang akan mempergunakannya pada jalan maksiat dan kemungkaran.

4. Allah akan menimpakan suatu penyakit yang berpanjangan sehingga ia terpaksa membelanjakan semua hartanya itu bagi mengubati penyakitnya.

5. Dia menanamkan hartanya itu pada suatu tempat, lalu ia sendiri terlupa sehingga tidak boleh menemuinya lagi.
6. Terlintas dalam fikirannya untuk mendirikan suatu bangunan di atas tanah yang rosak, yang mengakibatkan hartanya sendiri musnah.
7. Allah s.w.t meninggikan syahwatnya sehingga ia sendiri yang akan memusnahkan



*Jangan lupa zakat fitrahnya ye... :)

AIRMATA RASULULLAH SAW.....

Sempena Ramadahan kareem ni kita hayatilah bersama kisah bertapa cintanya Rasulullah S.A.W kepada umatnya kepada sesiapa yang masih belum bersolat lagi kerjakan lah solat, kepada yang dah bersolat baiki solat agar sempurna InsyaAllah. Jangan sesekali kita tingggalkan solat wahai saudara ku.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. 'Bolehkah saya masuk?' tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, 'Maafkanlah, ayahku sedang demam', kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, 'Siapakah itu wahai anakku?'

'Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,' tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.
Seolah-olah bahagian demi! bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.


'Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.

Dialah malaikatul maut,' kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.



Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

'Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?', tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

'Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu...

'Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,' kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. 'Engkau tidak senang mendengar khabar ini?', tanya Jibril lagi.

'Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?'

'Jangan khawatir, wahai Rasul ! Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,' kata Jibril.



Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik.

Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. 'Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.'



Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

'Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?'

Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

'Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,' kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.....



'Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.'



Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, ! Ali segera mendekatkan telinganya. 'Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku' 'peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.'

Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.

Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

'Ummatii,ummatii,ummatiii?' - 'Umatku, umatku, umatku'

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.

Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?

Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi



Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Manggapai Lailatul Qadar

1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Allah Ta'ala berfirman, (ertinya) "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan (Lailatul Qadar) itu? Malam kemuliaan (Lailatul Qadar) itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadr : 1-5)

Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, iaitu takdir selama setahun. Allah Ta'ala berfirman, (ertinya) "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (iaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Ad-Dukhan: 3 - 6)

2. Waktunya

Diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa malam tersebut terjadi pada malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Ini adalah pendapat yang paling kuat berdasarkan hadis 'Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata bahwa Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam beri'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda: "Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terlepas dari tujuh hari terakhir, kerena riwayat dari Ibnu Umar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Carilah di sepuluh hari terakhir, jika seorang dari kamu merasa lemah atau tidak mampu maka janganlah sampai terlepas tujuh hari bakinya." (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar?

Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa melakukan qiyam (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Disunnahkan untuk memperbanyak do'a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau bertanya: "Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tahu bilakah malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan?" Beliau sallallahu 'alaihi wasallam menjawab" "Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

"Ya Allah, Sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemaaf dan Suka Memaafkan, maka maafkanlah hamba." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad sahih)

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Adalah Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam apabila telah masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya (banyak beribadah), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Juga dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata: "Adalah Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) sepuluh hari terakhir yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya." (HR. Muslim)

4. Tanda-Tandanya

Dari 'Ubaiy radhiallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi." (HR. Muslim)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya sinar matahari melemah kemerah-merahan." (HR. Ath-Thayalisi, Ibnu Khuzaimah dan Al-Bazzar dengan sanad hasan)

KELEBIHAN SEDEKAH

Puasa pada bulan Ramadan yang merupakan rukun Islam kelima mula diwajibkan pada Tahun Hijrah ke-2, dengan turunnya surah al-Baqarah ayat 183-184 bermaksud: Wahai orang-orang yang beriman, kamu diwajibkan berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang terdahulu daripada kamu, supaya kamu bertakwa. (Puasa yang diwajibkan itu ialah) beberapa hari yang tertentu...

Firman-Nya yang sama dalam ayat 185 bermaksud: Oleh itu, sesiapa antara kamu yang menyaksikan anak bulan Ramadan (atau mengetahuinya), maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu... Amalan yang sangat dituntut pada Ramadan ialah bersedekah. Hal ini dijelaskan Abu Hurairah: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW. Ya Rasulullah, tolong terangkan kepada saya, sesuatu amal yang apabila saya melakukannya, akan menyebabkan saya masuk syurga. Baginda menerangkan, berilah makan (fakir miskin dan anak yatim), amalkan selalu memberi salam, eratkan silaturahim dengan membantu kaum kerabat dan kerjakan sembahyang tahajud pada waktu malam ketika orang ramai tidur, nescaya engkau akan masuk syurga dengan aman sentosa.” (riwayat Imam Ahmad)

*Di dunia, mereka yang bersedekah akan dimurahkan rezeki oleh Allah dalam kehidupannya. Faedah ini dijelaskan oleh Jabir Abdullah katanya: “Rasulullah berucap kepada kami, sabdanya: Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah sebelum kamu mati dan segeralah mengerjakan amal salih sebelum kamu sibuk (dengan yang lain), dan hubungkan apa yang ada di antara kamu dengan Tuhan kamu dengan sentiasa mengingatinya dan banyakkan bersedekah secara bersembunyi atau terang-terangan, nescaya kamu diberi rezeki yang mewah, diberi kemenangan (terhadap musuh dan digantikan dengan apa yang kamu dermakan itu dengan balasan yang berganda-ganda.” (riwayat Ibnu Majah)

*Terselamat daripada bala bencana. Anas bin Malik menjelaskan katanya: Rasulullah SAW bersabda: Segeralah kamu bersedekah kerana bala bencana tidak dapat melangkahi sedekah.” (riwayat Baihaqi)

*Seseorang itu akan dipanjangkan umur dan dicegah baginya kematian yang buruk. Amru bin Auf menceritakan: “Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya sedekah seseorang Islam itu akan memanjangkan umur dan mencegah daripada mati dalam keadaan buruk.” (riwayat Tabrani)

*Dosa seseorang itu dihapuskan Allah. Hal ini dijelaskan oleh Jabir bahawa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Sembahyang itu dapat mendampingkan diri dengan rahmat Allah dan membawa keredaan-Nya, dan puasa menjadi perisai kejahatan, manakala sedekah pula menghapuskan dosa seperti air memadam api.” (riwayat Abu Ya’la). 


Sepanjang hidup: Adab Berbuka Puasa

http://drmaza.com/home/?p=391

Adab Berbuka Puasa



Adab berhubung ibadat mestilah merujuk kepada ajaran yang ditunjuk oleh Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w., iaitu al-Quran dan sunah. Ada sebahagian pihak yang cenderung mencipta adab-adab ibadah tanpa merujuk kepada dua sumber agung itu, misalnya dakwaan yang menyatakan makruh mandi terlalu kerap, atau mandi pada hampir waktu berbuka kerana ia boleh mengurangkan keletihan dan sekali gus menghilangkan kelebihan puasa.

Sedangkan di dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam al-Mawata’, Ahmad dan Abu Daud di dalam sunannya, Abu Bakar bin Abd al-Rahman meriwayatkan:

“Telah berkata sahabat yang menceritakan kepadaku: “Aku melihat Rasulullah s.a.w. di al-`Arj (nama tempat) mencurahkan air ke atas kepala Baginda ketika Baginda berpuasa disebabkan dahaga atau panas.”

Dengan itu Ibn Qudamah al-Maqdisi (meninggal 620H) menyatakan:

“Tidak mengapa seseorang mencurahkan air ke atas kepalanya (ketika puasa) disebabkan panas atau dahaga kerana diriwayatkan oleh sebahagian sahabat bahawa mereka melihat Rasulullah s.a.w. di al-`Arj (nama tempat) mencurahkan air ke atas kepala Baginda ketika Baginda berpuasa disebabkan dahaga atau panas.”

(Ibn Qudamah al-Maqdisi, al-Mughni, 2/18, cetakan Dar al-Fikr, Beirut).

Yang penting di dalam bulan Ramadan ini adalah adab-adab yang kita kaitkan dengan ibadah puasa mestilah mempunyai asas yang boleh dipegang, iaitu al-Quran atau sunah. Antara adab-adab berbuka puasa yang dinyatakan di dalam hadis:

1. Menyegerakan berbuka apabila masuknya waktu atau disebut ta’jil al-Iftar. Ini berdasarkan hadis-hadis yang menyebut perkara ini, antaranya: Daripada Sahl bin Sa`ad bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Manusia sentiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa.”

(Riwayat Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menerangkan punca kebaikan di dalam agama ialah mengikut sunah Nabi s.a.w., iaitu Baginda menyegerakan berbuka puasa. Ini menolak dakwaan ajaran-ajaran karut yang kononnya melewatkan berbuka menambah pahala. Kata at-Tibi (meninggal 743H):

“Barangkali sebab Allah menyukai mereka yang bersegera membuka puasa, ialah kerana apabila seseorang berbuka puasa sebelum solat, membolehkannya menunaikan solat dengan dihadirkan hati. Juga ia menyanggahi ahli bidaah yang berpendapat wajib melewatkannya.”

(at-Tibi, Syarh Miskhat al-Masabih, 4/183, cetakan Dar al-Kutub al-`Ilmiyyah, Berut).
2. Berbuka puasa dengan rutab, atau tamar atau air. Rutab ialah buah kurma yang telah masak sebelum menjadi tamar kering, ia lembut dan manis. Adapun tamar ialah buah kurma yang sudah kering. (lihat: al-Mu’jam al-Wasit 1/88). Sekarang di negara kita rutab sudah mula dikenali. Ia kurma yang masak dan masih lagi belum kering dan mengecut. Apabila ia mengecut dipanggil tamar. Di dalam hadis daripada Anas katanya:

“Bahawa Rasulullah s.a.w. berbuka puasa dengan beberapa biji rutab sebelum bersolat. Sekiranya tiada rutab, maka dengan beberapa biji tamar, dan sekiranya tiada tamar, maka Baginda minum beberapa teguk air.”

(Riwayat Imam Ahamd dan Tirmizi, katanya hadis ini hasan) Al-Diya al-Maqdisi (meninggal 643H) telah mensahihkan hadis ini. (lihat: al-Ahadith al-Mukhtarah, 4/411 cetakan: Maktabah al-Nahdah al-Hadithah, Mekah).

Inilah tertib yang dilakukan oleh Baginda, pilihan pertama ialah rutab, jika tiada tamar dan jika tiada air. Kata al-Mubarakfuri (meninggal 1353H):

“Hadis ini menjadi dalil disunatkan berbuka puasa dengan rutab, sekiranya tiada, maka dengan tamar, dan sekiranya tiada, maka dengan air. Adapun pendapat yang menyatakan di Mekah disunatkan didahulukan air zam-zam sebelum tamar, atau mencampurkan tamar dengan air zam-zam adalah ditolak. Ini kerana ia menyanggahi sunah. Adapun Nabi telah berpuasa (di Mekah) banyak hari pada tahun pembukaan kota Mekah, namun tidak pernah diriwayatkan baginda menyalahi adat kebiasaannya mendahulukan tamar sebelum air.”

(al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwazi, 3/311, cetakan Dar al-Kutub al-`Ilmiyyah, Beirut). Di samping itu, dakwaan jika tiada tamar, maka dengan buah-buahan yang lain juga tiada sebarang dalil daripada sunah Nabi s.a.w.
3. Menyegerakan solat Maghrib selepas berbuka dengan tamar atau air, sekiranya makanan belum dihidangkan. Hadis yang kita nyatakan di atas menunjukkan Baginda Nabi s.a.w. berbuka dengan rutab atau tamar atau air sebelum bersolat Maghrib. Maka kita disunatkan juga mengikuti langkah tersebut, iaitu selepas berbuka dengan perkara-perkara tadi, lantas terus menunaikan solat. Ini sekiranya makanan belum dihidangkan. Adapun sekiranya makanan telah dihidangkan di depan mata, maka dimakruhkan meninggalkan makanan untuk menunaikan solat. Ini berdasarkan apa yang dinyatakan dalam hadis-hadis baginda Nabi s.a.w. antaranya: Daripada Anas bin Malik r.a.: Bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Apabila telah dihidangkan makan malam, maka mulakanlah ia sebelum kamu menunaikan solat Maghrib, dan jangan kamu tergopoh-gapah ketika makan malam kamu.”

(Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis yang lain daripada Abdullah bin Umar, Baginda s.a.w. bersabda:

“Apabila dihidangkan makan malam seseorang kamu, sedangkan solat (jamaah) telah didirikan, maka mulailah dengan makan malam. Janganlah dia tergopoh-gapah sehinggalah dia selesa.”

(Riwayat Bukhari dan Muslim).

Riwayat di atas juga menambah:

Bahawa Ibn Umar r.a. apabila dihidangkan untuknya makanan, manakala solat pula sedang didirikan, maka beliau tidak mendatangi solat melainkan hingga beliau selesai makan, sedangkan beliau mendengar bacaan imam. Ini kerana meninggalkan makanan dalam keadaan keinginan yang kuat untuk menjamahnya atau dalam perasaan lapar, boleh menghilangkan khusyuk di dalam solat, disebabkan ingatan terhadap makanan tersebut. Dengan itu para ulama menyatakan dimakruhkan solat setelah makanan terhidang di hadapan mata. Kata an-Nawawi (meninggal 676H): Di dalam hadis-hadis tersebut dimakruhkan solat apabila terhidangnya makanan yang hendak dimakan kerana ia boleh mengganggu hati dan menghilangkan kesempurnaan khusyuk.

(An-Nawawi, Syarh Sahih Muslim, 4/208, cetakan: Dar al-Khair, Beirut).

Sebenarnya bukan pada makan malam atau solat Maghrib sahaja kita disunatkan mendahulukan makanan yang dihidang sebelum solat, bahkan sunah ini meliputi semua solat dan waktu makan kerana dibimbangi menghilangkan khusyuk. Ini sekiranya makanan telah terhidang di depan mata. Al-Munawi (meninggal 1031H) pula menyebut:

“Hadis tersebut menyatakan hendaklah didahulukan makan malam sebelum solat Maghrib. Namun ia juga dipraktikkan juga pada solat-solat yang lain. Ini kerana punca arahan ini ialah bimbang hilangnya khusyuk.”

(al-Munawi, Faidh al-Qadir, 1/295, cetakan: al-Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra, Mesir).

Malangnya ada di kalangan yang kurang faham, lalu mereka menyatakan bahawa kalau azan sudah berkumandang, hidangan dan makanan hendaklah ditinggalkan demi mengutamakan solat jemaah. Inilah kedangkalan meneliti hadis-hadis Nabi s.a.w., lalu mengandaikan agama dengan emosi sendiri.

Adapun sekiranya makanan belum terhidang atau perasaan keinginan terhadap makanan tiada, maka tidaklah dimakruhkan untuk terus solat. Ini bukanlah bererti kita disuruh mementingkan makanan melebihi solat, sebaliknya tujuan arahan Nabi s.a.w. ini ialah untuk memastikan kesempurnaan solat. Al-Imam Ibn Hajar al-`Asqalani (meninggal 852H) memetik ungkapan Ibn Jauzi (meninggal 597H):

“Ada orang menyangka bahawa mendahulukan makanan sebelum solat adalah bab mendahulukan hak hamba ke atas hak Tuhan. Sebenarnya bukan demikian, tetapi ini adalah menjaga hak Allah agar makhluk masuk ke dalam ibadahnya dengan penuh tumpuan. Sesungguhnya makanan mereka (para sahabat) adalah sedikit dan tidak memutuskan mereka daripada mengikuti solat jemaah.”

(Ibn Hajar al-`Asqalani, Fath al-Bari, 2/385, cetakan: dar al-Fikr, Beirut).
4. Makan dengan kadar yang tidak berlebihan ketika berbuka. Ini bertepatan dengan firman Allah s.w.t. maksudnya:

Dan makan dan minumlah kamu, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak suka orang yang berlebih-lebihan.

(Surah al-`Araf:31).

Di dalam hadis Baginda s.a.w. menyebut:

“Anak Adam itu tidak memenuhi suatu bekas yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap yang dapat meluruskan tulang belakangnya (memberikan kekuatan kepadanya). Sekiranya tidak dapat, maka satu pertiga untuk makanan, satu pertiga untuk minuman dan satu pertiga untuk pernafasan.”

(Riwayat Tirmizi, katanya: hadis ini hasan sahih. Al-Hafiz Ibn Hajar al-`Asqalani dalam Fath al-Bari menyatakan hadis ini hasan).

Hadis ini salah difahami oleh sesetengah pihak, lalu mereka menyangka Nabi s.a.w. menyuruh umatnya jika makan, hendaklah satu pertiga untuk makanan, satu pertiga untuk minuman dan satu pertiga untuk pernafasan. Sebenarnya jika kita teliti hadis ini bukan demikian, pembahagian tersebut ialah had maksimum. Kalau boleh kurang daripada itu. Sebab itu Baginda menyebut jika tidak dapat, maka tidak melebihi pembahagian tadi. Namun yang lebih utama digalakkan sekadar yang dapat memberi tenaga.
5. Berdoa ketika berbuka. Ini berdasarkan hadis Nabi s.a.w.:

“Sesungguhnya bagi orang berpuasa itu, doa yang tidak ditolak ketika dia berbuka.”

(Riwayat Ibn Majah, sanadnya pada nilaian hasan dan ke atas. Ishaq bin ‘Abd Allah al-Madani dithiqahkan oleh Abu Zur’ah dan disebut saduq oleh al-Zahabi dalam al-Kasyif ).

Maka kita boleh berdoa dengan apa sahaja doa yang kita hajati. Doa orang berpuasa makbul disebabkan jiwa yang telah dibersihkan daripada kotoran dosa dan syahwat. Justeru itu al-Munawi menyebut:

”Hadis di atas hanya untuk sesiapa yang telah menunaikan tanggungjawab puasa dengan menjaga lidah, hati dan anggota.”

(Faidh al-Qadir, 2/500).

Di sana ada doa yang ditunjukkan oleh Nabi s.a.w. ketika berbuka dan disunatkan kita membacanya:

“Adalah Rasulullah s.a.w. apabila berbuka, Baginda bersabda: Telah hilanglah dahaga, telah basahlah peluh (hilang kekeringan) dan telah tetaplah pahala, insya-Allah.”

(Riwayat Abu Daud, sanadnya hasan)

Namun setiap orang yang menunaikan puasa dengan sepenuhnya, hendaklah merebut peluang doa yang makbul ketika dia berbuka.
6. Berdoa kepada sesiapa yang menjamu kita berbuka, kata Anas r.a.:

“Baginda s.a.w. pernah datang kepada (rumah) Saad bin Ubadah. Dia menghidangkan roti dan minyak. Baginda pun makan dan bersabda: Telah berbuka puasa di sisi kamu mereka yang berpuasa, telah makan makanan kamu mereka yang baik dan telah berselawat ke atas kamu para malaikat.”

(Riwayat Abu Daud, Diya al-Maqdisi dalam Al-Ahadith al-Mukhtarah menyatakan ia sahih 5/158). Maka berdoalah kepada mereka yang menjamu kita berbuka puasa. Ini adab yang sangat baik.

Demikian senarai adab-adab yang terkandung di dalam sunah Nabi s.a.w. ketika berpuasa. Semoga pengamalan adab-adab ini menambahkan lagi pahala puasa kita.

KHUTBAH TERAKHIR NABI MUHAMMAD SAW

KHUTBAH INI DISAMPAIKAN PADA 9 ZULHIJJAH TAHUN 10 HIJRAH
DI LEMBAH URANAH,GUNUNG ‘ARAFAH

Wahai manusia dengarlah baik-baik apa yang hendak ku katakan !!!

Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini. Oleh itu dengarlah dengan teliti kata-kataku ini dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir di sini pada hari ini.

Wahai manusia, sepertimana kamu menganggap bulan ini dan kota ini sebagai suci maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai amanah suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak. Janganlah kamu sakiti sesiapapun agar orang lain tidak menyakiti kamu pula. Ingatlah bahawa sesungguhnya kamu akan menemui Tuhan kamu dan Dia pasti akan membuat perhitungan atas segala amalan kamu. Allah telah mengharamkan riba’, oleh itu segala urusan yang melibatkan riba’ hendaklah dibatalkan mulai sekarang. Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu. Dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikutinya dalam perkara-perkara kecil.

Wahai manusia, sebagaimana kamu mempunyai hak atas para isteri kamu, mereka juga mempunyai atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan mereka ke atas kamu maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang. Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik dan berlemah lembutlah terhadap mereka kerana sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia. Dan hak kamu ke atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina.

Wahai manusia, dengarlah bersungguh-sungguh kata-kataku ini. Sembahlah Allah, dirikanlah solat lima kali sehari, berpuasalah di Bulan Ramadhan, tunaikanlah zakat dan harta kekayaan kamu dan kerjakanlah ibadah haji sekiranya mampu. Ketahuilah bahawa setiap Muslim adalah saudara kepada Muslim yang lain. Kamu semua adalah sama; tidak ada seorangpun yang lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam taqwa dan amal soleh.

Ingatlah bahawa kamu akan mengadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggungjawabkan atas segala apa yang telah kamu lakukan. Oleh itu, awasilah tindak-tanduk kamu agar jangan sekali-kali kamu terkeluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.

Wahai manusia, tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang selepasku dan tidak akan lahir agama baru. Oleh itu wahai manusia, nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah disampaikan kepada kamu. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Al-Quran dan Sunnahku.

Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku ini menyampaikannya pula kepada orang lain dan hendaklah orang yang lain itu menyampaikannya pula kepada orang lain dan begitu seterusnya. Semoga orang yang terakhir yang menerimanya lebih memahami kata-kataku ini dari mereka yang mendengar terus dariku.

Saksikanlah Ya Allah, bahawasanya aku telah sampaikan risalah-Mu kepada hamba-hamba-Mu.

 

© Copyright Sepanjang hidup . All Rights Reserved.

Designed by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine

Blogger Template created by Deluxe Templates